Rambu Solo dan Ekologi: Manfaat Studi Biblika Kontekstual dalam Membangun Spiritualitas Ekoteologi di Toraja

Yakobus Komura

Abstract


Humans and nature are an inseparable unity, as determined by God to establish harmony. Ecological relations that should be reciprocal are not visible, due to human behavior which tends to be anthropocentric towards nature. The rise of the ecological crisis forces Christianity to continue to rethink its role in promoting ecological conversion, especially in Toraja, which is predominantly Christian, which is also rich in customs and culture. The wealth that has made it increasingly known throughout the earth has now forgotten the awareness of the balance of its ecosystem. In particular, the Rambu Solo' culture is a funeral (death) rite or ceremony among the Toraja people who have certain levels based on their social strata, which then consumes a lot of natural attributes including animal sacrifices. Based on this concern, the role of contextual biblical studies is considered important in building awareness of ecological spirituality to become a bridge in maintaining ecosystem balance. Awareness to see others as creations that give each other life. The method in this paper attempts to use a synthetic or dialogical model. The synthetic model is a model that appears serious in involving other contexts.


ABSTRAK

Manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah untuk menjalin keharmonisan. Relasi ekologi yang semestinya bersifat timbal balik tidak nampak, akibat perilaku manusia yang cenderung antroposentris terhadap alam. Maraknya krisis ekologis memaksa kekristenan untuk terus memikirkan kembali peranannya dalam menggemakan pertobatan ekologis, khususnya di Toraja yang mayoritas agama Kristen, yang juga kaya akan adat dan budayanya. Kekayaan yang membuatnya makin dikenal hingga penjuru bumi, kini lupa akan kesadaran keseimbangan ekosistemnya. Khususnya budaya Rambu Solo’ yang merupakan ritus atau upacara pemakaman (kematian) dikalangan masyarakat Toraja yang memiliki tingkatan-tingakatan tertentu berdasarkan strata sosialnya, yang kemudian banyak menghabiskan atribut alam termasuk kurban hewan. Atas dasar keprihatinan ini maka dipandang penting peranan studi biblika kontekstual untuk membangun kesadaran spiritualitas ekologi menjadi jembatan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kesadaran untuk melihat yang lain sebagai ciptaan yang saling memberi kehidupan. Metode dalam tulisan ini mengupayakan dengan menggunakan model sintesis atau dialogis. Model sintesis ialah model yang nampak serius dalam melibatkan konteks-konteks yang lain.

 

Kata-kata kunci: Biblika, Ekoteologi, Rambu Solo’, Spiritualitas, Toraja



Keywords


Bible, ecotheology, solo signs, spirituality, Toraja.

Full Text:

PDF

References


Ada', J. L. (2014). Aluk To Dolo Menantikan Tomanurun Dan Eran Di Langi’ Sejati: Ia Datang Agar Manusia Mempunyai Hidup Dalam Segala Kelimpahan. Yogyakarta: Gunung Sopai.

Alisa, B. (2006). Teologi, Study Biblika Dan Misi. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Bevans, S. (2013). Model-Model Teologi Kontekstual. Maumere: Ledalero.

Borrong, R. (2019). Etika Bumi Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Borrong, R. (2019). Kronik Ekoteologi: Berteologi Dalam Konteks Krisis Lingkungan. STULOS: JURNAL TEOLOGI 17 No.2 , 202.

Bosh, D. J. (1997). Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi Yang Mengubah Dan Berubah . Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Buttang, A. (2023, Januari Jumat, 13). 261 Ribu Wisatawan Kunjungi Torut Selama 2022. Retrieved Februari Senin, 19, 2024, from Tribunnews: https://toraja.tribunnews.com/2023/01/13/261-ribu-wisatawan-kunjungi-torut-selama-2022-kete-kesu-terbanyak

Cakra, P. (2021). eran Dan Manfaat Study Biblika Kontekstual Dalam Merespons Peluang Dan Tantangan Berteologi Di Era Disruptif. In Dari Biblika Ke Anime: Diskursus Seputar Teologi, Kepemimpinan, Pendidikan Dan Isu Sosial (p. 13). Tana Toraja: LP2M IAKN Toraja.

Drummond, C. D. (2016). Teologi Dan Ekologi, ed. Robert Borrong. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Harun, M. (2013). "Alkitab Sumber Teologi Lingkungan Hidup?" dalam Iman Yang Merangkul Bumi: Mempertanggungjawabkan Iman di Hadapan Persoalan Ekologi, ed. Peter C. Aman . Jakarta: Obor.

Kabanga', A. (2002). Manusia Mati Seutuhnya: Suatu Kajian Antropologi Kristen. Yogyakarta: Media Pressindo.

Keraf, A. S. (2017). Filsafat Lingkungan Hidup: Alam Sebagai Sebuah Sistem Kehidupan Bersama Fritjof Capra. Yogyakarta: Kanisius.

Krismantyo, S. P. (2021). Pendamaian Kristus Dalam Surat Kolose Dan Ritus Mosehe Bagi Pengembangan Ekoteologi Kontekstual Sulawesi Tenggara. In Bumi, Laut dan Keselamatan: Refleksi-Refleksi Ekoteologi Kontekstual (p. 170). Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Manggallo, Y. (2016). Sastra Toraja Nuansa Kristen. Rantepao: PT Sulo.

Nugraha, Y. (2022). Membangun Kesadaran Sebagai Manusia Spiritual-Ekologis Dalam Menghadapi Krisis Ekologi Di Toraja. SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 2 3, No.1 , 14.

Rae, M. (2013). Response: Reading as Formation. In Ears that Hear: Explorations in Theological Interpretation of the Bible. England: Sheffield Phoenix Press.

Salurante, T. (2020). Ritual Slaughtering of Livestock in “Aluk Rambu Solo”: How the way of Torajan Appropriate the Doctrine of Jesus as Sacrifice. Jakarta: Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar.

Sendana, F. I. (2021). Lingkungan Hidup Sebagai “Sang Liyan,. SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 2, Desember 28 , 62-79.

Setywan, Y. B. (2016). Gereja Sebagai Komunitas Ekologi Eklesiologi Dlam Konteks Krisis Ekologi Di Indonesia,’ in Prosiding KNMTI 2016: Aku Cinta Alam Indonesia Berteologi Dengan Alam Untuk Mewujudkan Gaya Hidup Bijaksana. Jakarta: Persetia dan STT GKI Banjarmasin.

Setywan, Y. Gereja Sebagai Komunitas Ekologi Eklesiologi Dalam Konteks Krisis Ekologi Di Indonesia.

Singgih, E. G. (2020). Agama Dan Kerusakan Ekologi, Mempertimbangkan ‘Tesis White’ Dalam Konteks Indonesia. GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian 5, No. 2 , 128.

Singgih, E. G. (2011). Pengantar Teologi Ekologi. Yogyakarta: Kanisius.

Susanta., Y. K. (2022). Spirit Ekologis: Ekuilibrium Manusia Dan Semua Ciptaan. Yogyakarta: Kanisius.

Toraja, K. U. (1994). Pengakuan Gereja Toraja. Rantepao: Pusbang-BPS Gereja Toraja.

Toraja, P. P. (2021). Himpunan Keputusan Sidang Sinode Am XXV Gereja Toraja. Kanuruan: Gereja Toraja.




DOI: https://doi.org/10.54592/jct.v3i2.154

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2024 Yakobus Komura

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

https://salto.poltekip.ac.id/css/

https://thinkcat.mywhc.ca/menyalaabangku/

https://thinkcat.mywhc.ca/sawercuan/

https://bandungkab.go.id/tests/

https://ebphtb.acehtimurkab.go.id/css/

https://h2h.web.uinjambi.ac.id/

https://elicer.com.br/

https://elicer.com.br/wp-content/kt/

Published by: Sekolah Tinggi Teologi Anugerah Indonesia
Institution Website:https://anugrah.ac.id/
Address: Kampus Utama: BG Junction Mall L2/P5, Jl. Bubutan 1-7 Surabaya
e-jurnal Website: https://e-journal.anugrah.ac.id/index.php/JCH/index
e-ISSN: 2808-4454 p-ISSN: 2808-8735

Charistheo Indexed by:

               

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-SA 4.0).